Bolehkah Berkata Jangan Pada Anak

Sahabat Ummi, ada 2 pandangan yang berbeda mengenai penggunaan kata ‘jangan’ dalam mendidik anak.

Ada yang menyatakan sebisa mungkin hindari kata ‘jangan’, lebih baik langsung meminta anak melakukan apa yang sebaiknya dilakukan. Misalnya, daripada mengucap “Jangan berisik!” lebih baik katakanlah, “Duduk yang manis yuk Nak!”

Namun ada juga yang ‘menuding’ kelompok yang menghindari kata ‘jangan’ ini merupakan pengikut ilmu parenting barat, bukan pengikut parenting qurani di mana Luqman jelas-jelas mengucapkan kata ‘jangan’ dalam mendidik anaknya. “Wahai anakku, jangan menyekutukan Allah!”

Lalu sebagai orangtua kita harus bagaimana? Benarkah menghindari pengucapan ‘jangan’ sama dengan mengadopsi ilmu parenting Barat dan melupakan parenting qurani?

Sahabat Ummi, sekilas memang membingungkan, tapi jika ditelisik sedikit lebih teliti, sebenarnya 2 pandangan tersebut sama sekali tak berbenturan, dan kita tak perlu membenturkan sesuatu yang sebenarnya memang tidak kontradiktif.

Jadi intinya, kata ‘jangan’ memang perlu dikurangi pemakaiannya dalam mendidik anak-anak untuk hal-hal yang bersifat keseharian, karena bisa lebih efektif dan anak tak akan merasa ini-itu serba dilarang.

Misalnya kalimat “Jangan hujan-hujanan!” bisa diganti menjadi “Boleh hujan-hujanan kalau sudah tidak ada petir dan asal pakai jas hujan yaa.”

Atau, “Jangan manjat pohon!” menjadi “Mau panjat pohon boleh saja asalkan ada ibu yang pegang/lihatin yaa.”

Sehingga daya kreatif anak tak mati oleh kata ‘jangan ini, jangan itu, jangan begini, jangan begitu’. Bahkan Rasulullah pun membiarkan cucu-cucunya menaiki pundaknya saat beliau shalat, membiarkan para perempuan memukul alat musik tanpa adanya kata larangan.

Akan tetapi, benar bahwa kata ‘jangan’ tetap harus ditegaskan untuk hal-hal yang bersifat prinsip, agar anak memahami bahwa hal tersebut benar-benar TERLARANG!

Bukankah jauh berbeda antara larangan ‘Jangan menyekutukan Allah’ dengan ‘Jangan nonton TV!’

Yang satu amat prinsipil dan memang harus menggunakan kata ‘jangan’ karena tak tergantikan, sedangkan yang satu lagi bisa sekali diubah lebih efektif menjadi “Yuk kita baca Quran bareng daripada cuma nonton TV,” karena kalimat ini lebih solutif daripada sekadar melarang anak nonton tapi tak memberikannya pilihan alternatif.

Jangan lupa bahwa dalam Al Quran pun banyak perintah yang bersifat positif alias tidak menggunakan kata ‘jangan’. Misalnya “Dirikanlah shalat!” “Berbuat baiklah pada kedua orangtua!” “Bersyukurlah!”

Oleh sebab itu, mari menjadi orangtua yang bijak, tidak melulu mengobral kata ‘jangan’ pada anak-anak sehingga ketika ada hal yang amat esensi serta amat terlarang, mereka malah meremehkannya saking terlalu banyaknya larangan yang orangtuanya berikan. Wallaahualam.

Foto ilustrasi: google

Sumber: ummi-online.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *